Tips dan ide bisnis

Anna Trybocka, CEO CrescoData

Wawancara dengan Anna Trybocka, CEO CrescoData Tentang Trend E-Commerce Indonesia

topik: Wawancara penulis:

Ecommerce Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa.  Marketplace-marketplace besar seperti Lazada berlomba-lomba untuk masuk ke pasar Indonesia.  Hal ini baik buat iklim investasi di Indonesia. Namun sayangnya, masuknya raksasa-raksasa Ecommerce Internasional ke Indonesia berarti ritel-ritel kecil terancam keberadaannya.  Untungnya, masih ada kesempatan untuk platform-platform dan ritel online lokal bersaing dengan pemain-pemain besar tersebut.  Bagaimana caranya?

Kami berbicara dengan Anna Trybocka, CEO CrescoData, platform yang berspesialisasi di otomasi data produk untuk Ecommerce, mengenai tren Ecommerce di Indonesia, posisi CrescoData didalamnya, dan tips bagi ritel dan platform lokal agar dapat memanfaatkan daya ungkit yang ada untuk mampu bersaing di pasar Ecommerce yang menjanjikan, namun sangat kompetitif.

Anna Trybocka, CEO CrescoData

Berikut isi wawancara kami (untuk versi asli dalam bahasa Inggris, klik disini):

1 .Tolong bagikan kepada pembaca kami tentang perusahaan Anda, CrescoData

CrescoData memudahkan proses dalam mengatur dan menskalakan data produk. Ketika sebuah bisnis Ecommerce berekspansi secara cepat, mempertahankan katalog produk yang terus berkembang di berbagai macam platform dapat menjadi sebuah tantangan tersendiri. CrescoData meng-otomasi datfar produk tersebut dan memperbaharui data produk di berbagai platform ritel dan kanal periklanan digital, sedemikian rupa sehingga para penjual dapat lebih memfokuskan perhatiannya kepada bisnis mereka.

2. Anda sangat menguasai seluk-beluk tren Ecommerce di Indonesia. Menurut pengamatan Anda, apa tiga tren Ecommerce teratas di Indonesia saat ini?

Tren paling atas adalah Ecommerce Mobile – pertumbuhannya di Indonesia sangat fenomenal. Dengan penetrasi mobile saat ini mencapai 91% dan Produk Domestik Bruto per kapita yang tumbuh berlipat ganda selama satu dekade terakhir, kekuatan membeli telah meningkat secara pesat. Ada berbagai prediksi di beberapa blog seperti ecommerceIQ yang mengklaim bahwa penghasilan Ecommerce akan terus meningkat dan melebihi 150 milliar dolar pada tahun 2025.

Tren lainnya ada pada adopsi wallet dan pembayaran mobile Indonesia yang terus berkembang menurut Gii Research, yang pada saat ini memproses transaksi sebesar 1.6 miliar dolar setahun. Dalam jangka waktu lima tahun, angka tersebut diharapkan untuk bertumbuh sepuluh kali lipat. Hal ini memungkinkan konsumen di Indonesia untuk melakukan pembelian melalui perangkat mobile mereka secara lebih mudah.

Akan tetapi, masih ada hambatan kultural terhadap adopsi wallet mobile, dan banyak pembeli yang masih memilih untuk bayar saat produk dikirimkan (COD.) Karena adopsi kartu kredit di Indonesia masih rendah, para penjual perlu untuk lebih fleksibel dalam menerima pembayaran.

Layanan seperti Go-Pay misalnya memungkinkan pembeli untuk membayar secara tunai satu pengiriman, termasuk nilai kredit yang disimpan di akun mereka yang dapat digunakan di pengiriman berikutnya.

Tren berikutnya adalah pertumbuhan “last mile delivery” atau pengiriman kilat lokal. Tantangan yang berupa kemacetan lalu lintas dan kurang tersedianya infrastruktur telah melahirkan kesempatan untuk para pengusaha yang memiliki keahlian lokal untuk menawarkan waktu pengiriman yang lebih baik.

Perusahaan seperti Ninja Van dan yang lebih kini daripada itu, DHL, menawarkan solusi pengiriman kepada penyedia Ecommerce. Startup lokal seperti Go-Jek juga mengembangkan layanan mereka kearah pengiriman barang, memungkinkan penjual untuk mengembangkan bisnisnya di daerah pedesaan.

GoJek
sumber gambar: Pinterest

3. Perusahaan Ecommerce raksasa – contohnya Amazon dan Lazada – datang ke Asia, menjebak platform kecil didalam perang harga yang tidak berkesudahan dan tidak masuk akal. Walau hal tersebut tak terelakkan, apa yang dapat dilakukan penjual online kecil untuk menghindarinya?

Para penjual seharusnya berfokus kepada diferensiasi produk, yang disesuaikan dengan keperluan dan keinginan pembeli lokal. Ada kesempatan untuk memanfaatkan platform besar tersebut untuk menjangkau pasar yang lebih lebar. Jadi, penjual perlu memastikan bahwa mereka ada di platform tersebut. Contohnya, mengetahui apa yang orang cari dan memiliki produk berkualitas yang relevan dengan apa yang dicari tersebut. Contoh lainnya adalah memiliki sistem untuk menguji secara cepat keberhasilan suatu produk dipasaran.

Kemampuan untuk menguji pasar secara cepat dengan prototipe terbatas, dan mencatat penjualan secara real time dan menyesuaikan produksi berdasarkan permintaan adalan keunggulan yang luar biasa.

4. Logistik sangatlah memusingkan buat ritel online di Asia Tenggara. Hal ini menjadi lebih menantang lagi untuk ritel kecil. Bagaimana cara mengatasi perbedaan bahasa, platform dan pola pembelian konsumen?

Memiliki data produk yang terstruktur sangatlah penting. Kolom-kolom data terstruktur tersebut haruslah mudah untuk ditarik sebelum dikirimkan ke tiap-tiap platform. Sebuah produk mungkin berada di laporan analisis Anda dengan harga dalam Rupiah, tetapi dengan nama dan keterangan dalam bahasa Inggris. Ketika dikirimkan ke marketplace Thailand seperti Tarad, semua informasi penting tersebut harus diterjemahkan kedalam bahasa Thai, dan dihargai dalam Baht, dengan pajak dan biaya yang disesuaikan. Disini otomasi adalah kunci.

5. Apa peranan CrescoData dalam menolong platform-platform kecil untuk memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi raksasa-raksasa Ecommerce?

Kami membantu merek-merek yang sedang berkembang pesat untuk mengotomasi dan menuntaskan kemacetan yang umum terjadi dalam penjualan. Dengan menggunakan jaringan mitra-mitra marketplace kami diseluruh daerah, produk yang didaftarkan melalui CrescoData dioptimasikan untuk tiap-tiap marketplace, termasuk ukuran gambar, panjang teks dan mata uang. Selain itu, CrescoData juga menyelaraskan data dinamik seperti jumlah stok dan harga diskon, sedemikian rupa sehingga seluruh perjalanan konsumen mulai dari melihat iklan ke pembelian ke pengiriman dapat diselaraskan.

6 .Terakhir, mohon bagikan tips untuk pembaca kami yang mungkin baru saja memulai usaha, yang berhasil menjalankan platform ritel kecil dengan dana terbatas dengan harapan untuk berkembang dengan pesat di tahun-tahun mendatang.

Gunakan apa yang sudah ada sehingga Anda bisa berfokus kepada bisnis inti Anda. Visibilitas marketplace besar dan kemudahan yang disediakan oleh mitra-mitra logistik dapat menyelesaikan permasalahan Anda dalam hal promosi dan pengiriman. Ini memungkinkan Anda untuk menghabiskan waktu dalam memahami apa yang diinginkan pelanggan dan menciptakan produk yang lebih baik.

Tren Ecommerce Indonesia

The English version of the Q&A

1. Please kindly share with our readers about your company, CrescoData.

CrescoData simplifies the process of managing and scaling product data. When an ecommerce business expands quickly, maintaining a growing product catalogue across an increasing number of platforms can be a challenge. CrescoData automates the listing and updating of product data across multiple retail platforms and digital advertising channels, so sellers can focus on their business.

2. You are very savvy about Indonesia’s ecommerce trends. According to your observation, what are the top three e-commerce trends in Indonesia right now?

The top trend is mobile commerce – growth in Indonesia has been phenomenal. With 91% mobile penetration today and GDP per capita having doubled over the last decade, buying power has increased tremendously. There are predictions on blogs such as ecommerceIQ that claim ecommerce revenue will continue to grow, and exceed US$150 billion by 2025.

Another trend is Indonesia’s growing adoption of mobile wallets and payments according to Gii Research, which currently process $1.6 billion a year. In five years, that’s expected to grow tenfold. This is enabling consumers in Indonesia to seamlessly make purchases from a mobile device.

However, there is still a cultural barrier to mobile wallet adoption, and many buyers prefer cash on delivery. Since credit card adoption in Indonesia remains low, sellers need to be more flexible with accepting payments.

Services such as Go-Pay for instance allow buyers to pay by cash on one delivery, including a credit amount saved in their account which can go towards their next delivery.

There is also growing sophistication in last mile delivery. Challenges with traffic and infrastructure have created an opportunity for players with local expertise to offer improved delivery times.

Increasingly, companies such as Ninja Van and more recently, DHL, are offering delivery solutions to ecommerce vendors. Local startups such as Go-Jek are also expanding their services into deliveries, enabling sellers to expand into rural areas.

Kotak Amazon

3. The giants – e.g. Amazon and Lazada – are coming to Asia, trapping smaller platforms in endless (and mindless) price wars. While the race to the bottom is inevitable, what small online retailers should do to avoid such situation?

Retailers should focus on offering differentiated products, tailored to local needs and preferences. There is an opportunity to leverage these platforms to reach a wider audience, so sellers need to ensure visibility on these platforms. For instance, knowing what searches are popular in the market and having relevant, quality products for these searches. Another is having robust systems in place to test fast and fail fast. Being able to rapidly market test with a limited run of prototypes, and track sales in real time and adjust production based on demand is a tremendous advantage.

4. Logistics are major headaches for online retailers in Southeast Asia. Things are even more challenging for small retailers. How to navigate through the different languages, platforms and buying patterns?

Having structured product data is essential – structure data fields to be easily retrieved and before being sent to each marketplace. A product may sit in your analytics with its pricing listed in Indonesian Rupiah, with an English product name and description. When pushed to a Thai marketplace like Tarad though, all key information needs to be translated to Thai, and pricing in Thai Baht with relevant taxes and fees applied. Automation is key.

5. What’s CrescoData’s role in helping small platforms to have sufficient fighting power against the giants?

We help rapidly-growing brands to automate and streamline common bottlenecks in selling. Leveraging our extensive network of marketplace partners across the region, products listed using CrescoData can ensure their listings are optimised for each marketplace, including image sizes, text length and currency. Additionally, CrescoData syncs dynamic data such as stock levels and discount pricing, so that the entire customer journey from advertising to marketplace purchase to delivery is aligned.

6. Lastly, please share your growth tips for our readers who are just starting up, successfully bootstrapped a thriving micro platforms that are hoped to grow significantly – if not exponentially – in the upcoming years.

Leverage what is already out there so you can focus on your core business. The visibility of large marketplaces and the convenience of logistics partners can solve common challenges with promotion and delivery. This enables sellers to spend more time engaging and understanding what customers want, and create better products.

Gabung milis kami!

Gabung ke milis kami untuk menerima tips bisnis mingguan.

Terima kasih - mohon dicek email inbox anda untuk mengkonfirmasi pendaftaran

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Artikel terbaru dari Wawancara

Gabung ke Milis kami!

Gabung ke milis kami untuk memperoleh tips bisnis mingguan.

Terima kasih - mohon dicek email inbox anda untuk mengkonfirmasi pendaftaran

Pin It on Pinterest

Kembali ke Atas